Arsip Renungan
Masyarakat mengenal Koko sebagai media yang digunakan untuk memberitahukan sesuatu atau memanggil masyarakat setempat. Koko identik dengan lonceng. Umumnya digunakan di lingkungan masyarakat.
Pada tahun 1892, Dora Lett membawa lonceng yang terbuat dari bahan yang berbeda dari koko. Lett membawa lonceng tersebut di tempat pelayanan suaminya di Tugala Lahõmi.
Lonceng itu digunakan di gereja untuk memanggil orang supaya hadir di ibadah Minggu.
Masyarakat sangat terpukau melihat benda yang agak asing ini. Dengan alat itu, mereka mulai memahami signifikannya waktu dalam kehidupan mereka.
Gereja di Nias memang tidak semua memakai lonceng. Ada kalanya juga memakai koko. Di lingkungan tempat pelayanan saya, ada satu dua gereja yang masih memanggil orang dengan koko. Alasan utama gereja absen menggunakan lonceng ialah harganya yang cukup fantastik.
Menangani ketepatan waktu, gereja saat ini menentukan jam berapa dimulai suatu kegiatan. Seperti contohnya, di Agendre Gereja Angowuloa Fa'awosa kho Yesu - AFY dicantumkan bahwa kebaktian Minggu wajib dimulai pada pukul 10.00 pagi.
Sumber:
Tuhoni Telaumbanua, Salib dan Adu, 289.
Agendre Gereja AFY
Yesus Kristus kembali ke surga setelah misi keselamatan sudah selesai. Dia disambut dengan kehormatan oleh Bapa, Dia ditempatkan di tempat yang layak bagi Pemenang, di sebelah kanan Bapa di surga.
Di surga, Yesus hadir dengan tubuh kebangkitanNya yang mulia. Dia berada di sana sebagai jaminan kepada kita bahwa sebagaimana Kristus hadir di surga dengan tubuh kebangkitanNya, kita pun dibawa ke tempat yang Dia berada dengan tubuh yang mulia nantinya.
Di sana pun Dia bukan duduk santai menanti waktu yang ditetapkan Bapa untuk menghakimi dunia. Berdasarkan tulisan yang ditunjukkan kepada orang-orang Ibrani, kita diberitahu bahwa Dia, yakni Kristus Yesus bersyafaat bagi kita umat pilihanNya yang masih berada di dunia ini. Inilah jaminan bagi kita ; Juruselamat kita mendoakan kita senantiasa supaya ada kekuatan dan kesetiaan melanjutkan kesaksian di tengah-tengah dunia.
Kenaikan Yesus bukan sebatas seremonial, tetapi meneguhkan hati kita akan kemenangan yang telah diraih oleh Kristus Yesus, Tuhan kita. Kemenangan itu telah menyelubungi kita. Kita adalah umat pemenang (Roma 8 ). Kita harus memproklamasikan kemenangan itu kepada dunia hingga kedatanganNya kali kedua. Itu yang menjadi tugas kita. Hati dan pikiran serta waktu dan tenaga kita arahkan untuk kemenangan itu dan memberitakannya selama hayat kita.
Soli Deo Gloria 🙏
pada moment kenaikan, Yesus menyatakan suatu deklarasi yang menggembirakan pembaca, yakni para murid akan mendapatkan kuasa dan terlibat dalam karya keselamatan yang telah digenapi dan mulai direalisasikan oleh Allah. Yesus mengatakan "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (Kis. 1:8).
Pernyataan Kristus menekankan status para murid sebagai saksi-Nya di bumi ini. Yesus telah mengantisipasi keraguan dan ketidakmampuan para rasul, oleh karena itu, Dia meneguhkan hati mereka dengan menyatakan "kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu".
Di sini Yesus sebenarnya mengafirmasi ulang tugas Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa di dalam Nama-Nya, seperti yang ditulis dalam Injil Yohanes 14:26; 15:26; 16:14. Roh Kudus adalah saksi sorgawi yang diutus kepada orang percaya untuk mengajari dan mengingatkan mereka siapa Kristus Yesus. Kebenaran kesaksian tersebut sangat valid dan dinyatakan dalam Kitab Suci.
Status sebagai saksi (kata Yunani martus) merupakan sosok yang mengetahui dengan mengerti dan menyaksikan secara langsung apa peristiwa yang terjadi atau siapa yang akan disaksikan. Di sini dibutuhkan pengetahuan yang akurat, argumen yang jelas dan pembuktian yang faktual. Seorang saksi harus benar-benar mengenal sosok yang dia saksikan dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan kesaksian yang benar dan tepat. Selain itu, seorang saksi juga berani berkorban demi kebenaran (dari kata martus menjadi martir).
Hal ini menuntut adanya relasi yang intim dengan Kristus yang disaksikan. Saksi harus mengenal-Nya dan mengetahui semua karya dan kuasa-Nya yang menyelamatkan. Kemampuan untuk mengetahui itu berasal dari Roh Kudus yang mengilhami dan menuntun kita pada kebenaran. Hal ini hanya berlaku bagi para murid Kristus atau orang percaya.
Oleh karena itu, kita harus menyelaraskan siapa Kristus yang kita saksikan dengan kesaksian Roh Kudus di dalam Alkitab. Meskipun kita sangat beragam dan multistyle, kita tidak bisa mempresentasikan Krsitus menurut selera kita masing-masing. Kristus hanya satu, dan kesaksian tentang Dia pun hanya satu. Metode dan kearifan kita dalam menyaksikan Dia, tidak bisa mereduksi siapa Dia yang sesungguhnya. Mari kita mengenalNya dan mengasihi Dia dengan menjadi saksi yang rela berkorban demi Juruselamat kita.
Soli Deo Gloria! [Pdt. Mey Daman Lawolo]
Pertanyaan tersebut sepintas terlihat sepele karena data-data Alkitab yang memuat peristiwa pasca kebangkitan-Nya sangatlah melimpah. Yesus setelah kebangkitan menampakkan diri kepada para murid yang sedang ketakutan, menikmati makanan yang disajikan – ikan goreng (Lukas 24:42-43) dan ikan bakar (Yohanes 21:12-14) – untuk membuktikan bahwa keberadaanNya di tengah-tengah mereka bukan hantu, dan memberikan kesempatan kepada Thomas untuk menyentuh tangan dan lambungnya yang telah terluka supaya dia percaya bahwa Yesus sudah bangkit.
Narasi Alkitab di atas berkaitan dengan bukti-bukti bahwa Yesus benar-benar bangkit. Kebenaran ini tidak bisa disangkal. Kubur kosong membuktikan Dia hidup. Tetapi, Lukas memberikan frasa yang sederhana namun sangat signifikan untuk menjelaskan apa yang dilakukan Yesus selama 40 hari bersama para murid. Yesus tidak sibuk menunjukkan diri kepada mereka: “Aku telah bangkit, loh.” Dia juga tidak asyik menikmati makanan mereka. Bahkan Dia tidak sedang menggunakan waktu itu untuk memanas-manaskan suasana hati para murid supaya semakin berlarut di dalam kesedihan akan kepergianNya. Dalam hal ini, kita sangat bersyukur atas catatan Lukas.
Demikian Lukas mencatat “Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.” Di sini Lukas tidak menyangkal mengenai bukti kebangkitan Yesus yang berulang kali menampakkan diri kepada para murid. Tetapi, Lukas mencatat isi atau konten ketika Yesus menampakkan diri atau hidup bersama dengan mereka. Mengenai hal ini Lukas mencatat “berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.
Kata kerja legon (berbicara) berkala present aktif dan partisipel yang menunjukkan bahwa pembicaraan itu berlangsung di kala Yesus menampakkan diri kepada mereka. Secara umum, kata Yunani lego berarti berbicara. Tetapi, dalam Thayer's Greek Lexicon disebutkan penjelasan spesifik mengenai pengertian kata lego yang setara dengan “menegaskan”, “menyatakan”, ‘mengaku’, “mengatakan”, “mengajar”, menasihati, memberi saran; memerintahkan, mengarahkan, menjelaskan dengan kata-kata. Dari kata lego ini, kita bisa memahami bahwa Yesus selama 40 hari terus menerus mengajar atau menyatakan para murid tentang Kerajaan Allah. Yesus tidak mau kehilangan momen memberitakan Kerajaan Allah selama rentang waktu yang diberikan Bapa kepadaNya dalam menjalankan misi surgawi.
Topik Kerajaan Allah merupakan tema sentral kedatangan Yesus ke dunia. Dengan lantang Yohanes Pembaptis menyerukan "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat. 3:2). Berita yang sama diserukan oleh Yesus sejak pelayananNya hingga masa kebangkitanNya. Dia membekali para murid mengenai Kerajaan Allah untuk memiliki dan memberitakannya kepada dunia. Oleh karena itu, Lukas sebenarnya mempresentasikan kepada pembaca bahwa sentral pengajaran Yesus ialah Kerajaan Allah. Kita harus ditawan di dalam Kerajaan itu, menjadi warga dan ahli waris abadi sekaligus saksi akan semua karya Allah dalam meneguhkan KerajaanNya. Soli Deo Gloria. [Pdt. Mey Lawolo]
Paulus sangat terkenal sebagai rasul yang selalu mendoakan orang percaya (perhatikan surat-suratnya). Setiap doanya, selalu beralasan dan punya tujuan yang jelas. Penekanan yang harus diperhatikan di sini ialah doanya tidak terkait dengan kebutuhan jasmani, melainkan sifatnya lebih menjurus pada hal-hal spiritual dan pertumbuhan mereka di dalam Kristus.
Di bagian surat Kolose ini, kita bisa menganalisis doa Paulus untuk umat di kota Kolose. Harus kita ketahui bahwa jemaat di Kolose bukan didirikan atas jerih payahnya. Ada dugaan Epafras yang menjadi ujung tombak pembangunan jemaat di Kolose. Hal-hal itu tidak menjadi halangan bagi Paulus menyurati mereka.
Meskipun dia sedang di penjara, pikiran Paulus tidak terkurung, perasaannya masih hangat kepada umat. Dia masih mendoakan umat Tuhan yang dilanda tsunami filsafat dunia.
Di dalam doanya itu, Paulus mendoakan supaya pertumbuhan iman dan kasih jemaat senantiasa dipelihara bersamaan dengan pengertian dan pengetahuan akan kebenaran firman atau kehendak Tuhan.
Dia sebenarnya mendorong jemaat supaya tidak asal beriman. Paulus tidak mengenal azas "pokok e" karena baginya kehendak Tuhan harus dimengerti oleh setiap orang percaya.
Dia tidak sedang mendewakan pikiran, tetapi sedang menempatkan fungsi pikiran manusia pada kodrat yang sebenarnya. Dia menghimbau umat untuk memakai pikiran (rasio) untuk mengenal kebenaran firman dan menguji segala pengajaran yang merongrong kesejatian iman Kristen.
Doa Paulus ini sangat berimplikasi pada sikap pelayan yang anti terhadap umat yang kritis. Umat jangan dikekang dengan belenggu kebodohan. Umat harus diajari, didorong untuk belajar dan mengerti firman yang merupakan kehendak Allah yang dinyatakan kepada kita.
Paulus mempresentasikan kepada pembaca bahwa dukungan kita untuk mendidik umat bukan hanya melalui pengajaran seperti kelas katekisasi, khotbah atau seminar. Tetapi juga ada langkah lain ialah mendoakan mereka senantiasa supaya hati dan pikiran umat terarah pada kebenaran.
#doa #paulus #rasul #kolose #kebenaran #pengertian #renungan
Samuza so wanofu Martin Luther ba niha Keriso, imane "Hadia nifaluada na tohare Yesu Keriso iada'a ma mahemolu ma ba ngaluo mifönada?". Oya wanema nifaehagö zamati khõnia, ba oi manõ lõ enahöi. Fanofu da'õ faudu ba nisura Waulo andre.
Ifa'ema zurania Faulo ba wamotokhi ba dõdõ zamati hadia nifaluara ba we'aso Zo'aya. I'atulö'ö wamahaö selungu si no mufa'ema khöra. Ifahaö ira ena'õ ba we'aso Zo'aya:
1. La'onorogö tödö lala halöwö Lowalangi (1-5). Ifarou ira ena'õ mangandrö salahi ndra enoni Lowalangi ba wanuriagö Turia Somuso Dõdõ.
2. Lafaehusi mbuabuara ba gotalua mbanua. No tobali dumaduma khöra Waulo ba ira enoni Lowalangi tanö bö'ö. Lafaduhu'õ wa samati ira.
3. Lalau mohalöwö ba wangalui soguna khöra. Ifa'ema Faulo wa tenga sinangea manga zi lõ mohalöwö!
Ba daroma li andre ifa'ema khöda wa böi tarorogö wa'areu, he ba wotundreheni halöwö Lowalangi ba guli danö andre, he gõi wangalui soguna khöda irugi we'aso Zo'aya Yesu Keriso. Yaitolo ita Lowalangi!
AHATÖ YEHOWA NA MU’AO NDRA’ODO
Ngenungenu Yeremia 3:49-57
Ba duho daroma li andre edöna ifa’ema khöda wa so ginötö fandröndröu Lowalangi na mu’ao/mangandrö ita khö-Nia. Ifaduhu’ö da’ö Yeremia ba ayati si 44 “No öbalugö Ndra’ugö lawuo, fa tebai isösö fangandrö.” Faudu ba da’ö, imane göi Yesaya olalöŵami zamabali ya’ita khö Lowalangi (Yes. 59:1-2).Ba daroma li andre, ifa’ema khöda hewisa ena’ö ahatö Yehowa na mu’ao ita. Hadia nifaluada ena’ö ibe’e mbörö dalinga-Nia Yehowa ba wangandröda? Si föföna, Ta’ide’ide’ö ita föna-Nia. Ba ayati si 49-51 ifatunö khöda Yeremia wa no mo’ala’ala manö hörönia, mowöiwöi daŵa hörönia föna Zo’aya ba wamaigimaigi Yeruzalema si no tobali adudula. Möi ia khö Lowalangi si fao taŵa hörö. Si ndruhunia, ira matua abua sibai me’e (laki-laki tidak identik dengan air mata). Idanö hörö zamaduhu’ö wa si tebai ita ba wanaögö fa’afökhö si lö mu’ila mufaehagö ba wehede. Fange’esi nilau Yeremia ya’ia da’ö fange’esi horönia ba horö mbanuania föna Yehowa. Ifaduhu’ö si fao taŵa hörö wa börö horöra wa tola adudu Yeruzalema. Ba wangidengide’öda ya’ita föna Zo’aya, tatunö zi ndruhu irege ahat ita khö-Nia.
Si dua, Mu’ao ita khö Nama, ba döi Yesu ba wa’abölö Geheha Ni’amoni’ö. Yesu zamahaö ya’ita wa fangandröda tafa’ema khö Lowalangi Ama. Takaoni Lowalangi andrö, “He Abba, He Ama”. Ya’ia Nama fondrege zolomasi ba sahatö sibai khöda. Hiza, ba wangandrö nifaehagöda khö Nama, tafa’ema da’ö ba döi Yesu Keriso. Imane Yesu ba Yohane 16:23b “Si ndruhundruhu niŵa’ögu khöi, na so ni’andrömi ba khö Nama, ba Ibe’e khömi, ba döi-Gu” (Fahela 14:13-14; 15:7, 16).
Aefa da’ö, ba we’aoda khö Nama, tebai na moroi ba wa’abölöda. Si ndruhunia, lö ta’ila hewisa wangandrö. Andrö tebai isuno ia niha na i‘ila mangandrö. Ifaduhu’ö khöda Faulo, imane “Ba si manö göi Geheha, itolo ita, me no ambo wa’abölöda. Hadia ni’andröda ena’ö, hewisa zi sökhi, ba lö’ö sa ta’ila; ba Ya’ia, Eheha andrö, I’iagö salahida, ba wangaröngarö si lö alua baeha” (Rm. 8:26). Mu’ao ita khö Nama, me Ya’ia gumbu howuhowu khöda. Ta’angaröfi li Ia ha ba döi Yesu Keriso, si no tobali sama’ema ba gotaluada khö Nama (1Tim. 2:5). Ba Eheha Ni’amoni’ö zamahaö ba sangabölö’ö ya’ita ba wangandrö si sökhi.
Si tölu, Tatöngöni wa’abölö Lowalangi, tenga falemba höröda ba mbusibusi dödöda. Ba ngenungenunia andre, no manö itahigö ia tödönia Yeremia ba horö ba ba wa’adudu Yeruzalema. Hiza, ba gafuriatania ifuli ifakhölö ia wa ha sambalö itolo ira Lowalangi, me Lowalangi andrö fondrege zabölö, ba si lö faröi khöra. Tenga busibusi dödö nitöngönida ba wangandrö; tanga Lowalangi si lö faröi ba si lö ambö fa’abölö sondrorogö ya’ita.
Ba daroma li andre, ifahaö ita ena’ö lö mamalömalö ita wangandrö. Ba ba wangandrö göi tafaudugö ia ba zomasi Nama, si mane niŵa’ö Yohane “Ba da’ö wa lö aiwö, si so khöda ba khö-Nia: na so ni’andröda, hadia ia, si faudu ba zomasi Ia, ba Ifondrondrongo khöda” (1Yoh. 5:14). Soli Deo Gloria! [Pdt. Mey Daman Lawolo]
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Dalam kehidupan kita, seringkali kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan yang terasa gelap. Namun, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa terang Kristus selalu bersinar, tidak peduli seberapa gelap keadaan kita.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Dalam kehidupan kita, seringkali kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan yang terasa gelap. Namun, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa terang Kristus selalu bersinar, tidak peduli seberapa gelap keadaan kita.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Dalam kehidupan kita, seringkali kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan yang terasa gelap. Namun, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa terang Kristus selalu bersinar, tidak peduli seberapa gelap keadaan kita.
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Dalam kehidupan kita, seringkali kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan yang terasa gelap. Namun, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa terang Kristus selalu bersinar, tidak peduli seberapa gelap keadaan kita.