Arsip Renungan

23 Sep 2026 Vik. Apenidar Halawa, S.Th.
TUHAN Memulihkan
"Mazmur 147:1-6"

Pernahkah kita melihat sebuah barang kesayangan jatuh dan pecah berkeping-keping? Sering kali, reaksi pertama kita adalah membuangnya karena merasa barang itu tidak bisa lagi diperbaiki. Di dalam kehidupan, banyak orang merasa seperti barang pecah tersebut. Hati yang hancur karena kegagalan, kehilangan, rasa sakit, atau dikhianati, membuat seseorang merasa tidak berharga dan tidak punya masa depan. Namun, kabar baiknya adalah: apa yang diabaikan dan dibuang oleh dunia, justru dicari dan dipulihkan oleh Tuhan. Pemazmur mengundang kita untuk memuji Tuhan karena Ia adalah Allah yang sanggup memulihkan hidup yang paling hancur sekalipun.

 

Tuhan Memperhatikan Hati yang Hancur (Ayat 2–3)

“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.” (Ayat 3). Dalam ayat 2, Pemazmur mencatat bahwa Tuhan membangun kembali Yerusalem dan mengumpulkan orang-orang Israel yang terbuang. Tuhan tidak membiarkan umat-Nya terpuruk dalam kehancuran.

Tuhan bukan Allah yang jauh atau acuh tak acuh terhadap penderitaan kita. Kata “membalut” mencerminkan kelembutan dan perhatian yang sangat personal. Pemulihan dari Tuhan bukan sekadar menghilangkan rasa sakit, melainkan merawat luka-luka kita sampai benar-benar sembuh. Jika saat ini hatimu terasa remuk, ketahuilah bahwa Tuhan tidak memalingkan wajah-Nya; Ia dekat dan sedang bekerja memulihkanmu.

 

Kuasa Tuhan Tidak Terbatas (Ayat 4–5)

“Ia menentukan jumlah bintang-bintang dan menyebut nama mereka sekaliannya. Besarlah Tuhan kita dan berlimpah kekuatan, pengertian-Nya tidak terhingga.” (Ayat 4–5) Mengapa kita bisa percaya bahwa Tuhan sanggup memulihkan kita? Pemazmur mengarahkan pandangan kita ke langit. Bintang di jagat raya jumlahnya miliaran, tetapi Tuhan tahu jumlahnya dan bahkan memanggil masing-masing dengan namanya.

Jika alam semesta yang begitu luas berada dalam kendali-Nya, apalagi hidup dan masalahmu. Allah yang mengatur tata surya adalah Allah yang sama yang peduli pada detail terkecil dalam hidupmu. Tidak ada masalah yang terlalu rumit, dan tidak ada luka yang terlalu dalam bagi kuasanya yang tidak terhingga.

 

Tuhan Menegakkan Orang yang Tertindas (Ayat 6)

“Tuhan menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi orang-orang fasik ditimpa-Nya sampai ke tanah.” (Ayat 6). Dunia sering kali berpihak pada yang kuat dan mengabaikan yang lemah. Namun, Allah bekerja dengan cara sebaliknya. Ia merendahkan yang sombong (orang fasik) dan menegakkan orang-orang yang rendah hati serta tertindas. Pemulihan dari Tuhan membawa keadilan dan pengangkatan harkat hidup bagi mereka yang merasa tak berdaya.

Kehancuran bukanlah akhir dari cerita hidupmu jika kamu membawanya kepada Tuhan. Seperti seorang seniman yang bisa mengubah pecahan kaca menjadi karya seni mosaik yang indah, Tuhan sanggup merajut kembali kepingan hatimu yang hancur menjadi kesaksian kemuliaan-Nya.

Yang perlu kita lakukan ialah bawalah lukamu kepada Tuhan dalam doa: Jangan menyembunyikan rasa sakit atau berpura-pura kuat di hadapan-Nya. Kemudian percayalah pada kuasa pemulihan-Nya: Ingatlah bahwa kuasa-Nya lebih besar dari segala bentuk kehancuran yang kamu alami. Pujilah Dia di tengah proses: Seperti bait pertama Mazmur ini, mulailah bersyukur dan memuji Tuhan, karena memuji Allah yang memulihkan adalah hal yang indah dan layak.


Baca selengkapnya → Bagikan:
08 Sep 2026 Pdt. Silvan Hia, S.Th.
Bersaksi dengan Hidup
"1 Petrus 2:11-12"
“Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai orang pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. Belajarlah memelihara kelakuan yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai pelaku kejahatan, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.”
Pernahkah kita berhenti sejenak di tengah rutinitas dan kesibukan sehari-hari "untuk apa saya hidup?"
Banyak orang menghabiskan seumur hidupnya untuk mengejar pencapaian, pengakuan, dan kenyamanan pribadi di dunia ini. Namun, Alkitab memberikan sudut pandang yang jauh berbeda. Hidup kita di dunia ini bukanlah untuk dunia dan bukan tujuan akhir.
Melalui 1 Petrus 2:11, kita diingatkan akan status sejati kita, kita adalah "orang pendatang dan perantau". 
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Lantas, jika dunia ini bukan rumah abadi kita, apa kegunaan dan tujuan hidup kita selama masih diberi napas? Jawabannya jelas, hidup kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus yang nyata. Tujuan keberadaan kita adalah agar melalui jalan hidup kita, nama Tuhan dikenal dan dimuliakan oleh orang-orang di sekitar kita. 
Bagaimana bentuk konkrit dari bersaksi melalui kehidupan sehari-hari:
1. Menang atas Pertempuran Batin (Ayat 11)
Bersaksi dengan hidup dimulai dari apa yang tidak terlihat oleh orang lain, yaitu peperangan di dalam batin melawan keinginan daging. Keinginan daging ini hadir dalam hal-hal kecil setiap hari.
Godaan untuk membalas perkataan kasar atau tindakan tidak adil dengan kemarahan, keinginan untuk bersikap egois, berbohong demi keuntungan pribadi, atau menyebarkan gosip, sikap tidak sabar saat menghadapi situasi yang menekan.
Setiap kali kita memilih menundukkan keinginan daging dan mengikuti pimpinan Roh Kudus, kita sedang menyiapkan diri untuk menjadi saksi yang berdampak. Menjauhkan diri berarti memilih untuk taat pada Firman Allah, meskipun perasaan atau tubuh kita menginginkan hal sebaliknya (keinginan daging).
2. Memelihara Kelakuan yang Baik di Tengah Dunia (Ayat 12)
Dunia tidak selalu membaca Alkitab, tetapi mereka selalu membaca cara hidup kita. Dunia memperhatikan cara hidup kita, bukan sekadar ucapan kita. Kelakuan yang baik adalah "bahasa" yang bisa dipahami oleh semua orang, bahkan oleh mereka yang tidak mengenal Tuhan. Rasul Petrus menasihatkan agar kita memelihara kelakuan yang baik di tengah lingkungan dimana kita berada.
Di lingkungan kerja:
Bekerja dengan jujur, tidak curang, tepat waktu, dan memiliki integritas tinggi.
Di lingkungan keluarga: 
Menjadi figur yang dapat diteladani dan bisa memimpin keluarga, memiliki kasih, sabar dan lain-lain.
Di lingkungan masyarakat: Menjadi tetangga yang ramah, tidak suka mencari keributan, dan siap membantu mereka yang kesulitan.
Bagaimana Kita Bersaksi?
Sering kali kita berpikir bahwa bersaksi hanya bisa dilakukan dengan khotbah di atas mimbar, membagikan ayat-ayat Alkitab ataupun bersaksi melalui puji-pujian vokal grup. Namun, kesaksian yang paling kuat dan tajam justru terpancar dari perbuatan nyata (Firman yang berjalan). Kita bersaksi melalui melalui tindakan saat mengalami kesukaran, ketika kita difitnah, diremehkan, atau diperlakukan tidak adil, tetapi kita tetap membalasnya dengan kebaikan, ketenangan, dan ampunan. Di situlah kualitas iman kita bersinar. Menunjukkan standar moral yang tinggi di tengah lingkungan yang mungkin penuh dengan kompromi atau ketidakjujuran. Orang Kristen menjadi saluran berkat, mengasihi, dan memberi pertolongan tanpa membeda-bedakan.
Melalui Apa Kita Bersaksi? Kita bersaksi melalui hidup yang telah Tuhan beri. Orang tidak hanya melihat kesaksian dari ucapan saja. Orang lebih banyak melihat kesaksian berdasarkan apa yang mereka lihat dari setiap tindakan dan perbuatan.
Bagaimana Bersaksi dengan hidup?
- Menjaga Persekutuan Pribadi dengan Tuhan: Kita tidak dapat memancarkan terang jika tidak melekat pada Sang Terang. Doa dan firman harian adalah bahan bakar utama kita.
- Meminta Tuntunan Roh Kudus Setiap hari: Berdoalah agar Tuhan menuntun untuk melihat kesempatan melakukan kebaikan sekecil apa pun sepanjang hari.
- Mengingat dan menyadari Identitas sebagai Perantau: Kesadaran bahwa kita adalah perantau membuat kita tidak mudah terseret oleh arus dunia dan tetap fokus pada prioritas kekal. 
Mari kita mengevaluasi diri secara jujur:
Apakah kelakuan, kata-kata, dan respon kita saat menghadapi masalah sudah mencerminkan karakter Kristus?
Apakah orang-orang di sekitar dapat merasakan kasih dan kehadiran Tuhan melalui keberadaan saya?
Baca selengkapnya → Bagikan:
07 Sep 2026 Vik. Iman Kudus Luaha, S.Th.
TUHAN YANG MEMEGANG KENDALI
"Amsal 3:5-6"
Kebijaksanaan yang diperkenalkan kitab Amsal membawa kita pada pengertian sifat Allah yang mahabijaksana dan mahakuasa sehingga kita harus bergantung sepenuhnya kepadaNya yang mampu mencipta dan memelihara kita. Perjalanan iman kita tentunya banyak lika-liku kehidupan yang akan kita alami, masalah demi masalah yang datang silih berganti yang bisa saja menjauhkan kita dari Tuhan. Firman mengajak kita supaua memiliki bijaksana akan kuasa Tuhan yang memegang kendali seluruh kehidupan kita yang meyakinkan kita tidak kehilangan pengharapan. 
Kalimat yang umum kita dengar, ‘Tuhan yang memegang kendali’ sebenarnya mengandung makna yang sangat dalam. Pengamsal memberikan dua indikasi yang harus kita lakukan, yakni a) Percaya kepada Tuhan dengan segenap hatimu; b) Akuilah Dia dalam segala lakumu.
Mengapa kita mesti percaya kepada Tuhan dengan segenap hati? Sebab Dialah sandaran kita satu-satunya, karena Dialah yang memelihara kita. Itulah pasalnya. Adam Clarke menjelaskan bahwa kita harus percaya kepada Tuhan, karena: a) Tuhan adalah sumber segala kebaikan; b) Dia telah membuat makhluk-makhluk-Nya yang berakal bergantung kepada-Nya; c) Ia menghendaki agar mereka menyadari ketergantungan tersebut; d) Dia telah berjanji untuk memenuhi apa yang mereka butuhkan; e) Dia memerintahkan mereka untuk percaya pada janji-Nya, dan menantikan terpenuhinya janji tersebut; f) Dan untuk melakukan hal ini tanpa keraguan, ketakutan, atau ketidakpercayaan. Hal ini membawa kita mengerti bahwa kita tidak bisa hidup tanpa kendali Tuhan. Bilamana kita hidup dengan bersandar pada pengertian diri sendiri dan menentukan nasib kita sendiri pada tujuan kita, maka niscayalah semua akan berantakkan.
Tidak berhenti sampai di sana, kita juga harus mengakui Dia yang memelihara kita dalam rencana, tujuan, dan pekerjaan kita melalui doa supaya kita dibimbing dan didukung-Nya. Tidak sedikit orang memiliki semangat bekerja, tapi melupakan Dia yang menuntun kita dalam pekerjaan kita. Inilah yang mau diutarakan pengamsal supaya hati kita bertobat serta berdoa dengan sungguh-sungguh  sebagai bentuk pengakuan kita kepada Dia dalam segala yang kita lakukan untuk kemuliaan dan hormat bagi Allah, supaya hidup kita diluruskan-Nya dan dituntun untuk kemuliaan-Nya. Bila kita letakkan Tuhan berdaulat atas hidup kita, Dia akan memegang kendali atas hidup kita dan akan memberkati kita.
Baca selengkapnya → Bagikan:
03 Sep 2026 Vik. Lenny Fatmawati Waruwu, S.Th.
PRIORITASKAN KERAJAAN ALLAH
"“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” -- Matius 6:33"

           Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa prioritas merupakan sesuatu yang didahulukan atau diutamakan daripada yang lain. Banyak hal yang menjadi prioritas hidup manusia, ada yang mengutamakan kesehatan, mengutamakan keluarga, ekonomi, kebutuhan, jabatan, hubungan sosial, pekerjaan dan lain sebagainya. Orang yang mengutamakan kesehatan akan berusaha hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, orang yang mengutamakan keluarga akan berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan keluarganya. Prioritas akan membentuk pola pikir yang melahirkan tindakan. Jadi, apa yang kita letakkan di tempat pertama sebagai prioritas utama akan menentukan seperti apa kita hidup.

Namun, saat prioritas hidup kita bermasalah, tidak heran jika kekecewaan dan kekhawatiran pun timbul dalam hati, mungkin itu sebabnya kita sering khawatir: “khawatir akan kebutuhan sehari-hari, khawatir akan masa depan, kecewa ketika rencana gagal, cemas ketika kesehatan memburuk dan lain sebagainya. Tetapi, Tuhan tidak membiarkan kita hidup dalam kekhawatiran itu, Ia punya satu prinsip yang akan mengubah cara kita berpikir dan bertindak: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya”.

Kebanyakan orang berpikir bahwa kerajaan itu soal wilayah: ada raja, ada istana atau batas wilayah. Tapi dalam Alkitab, Kerajaan Allah bukan sekadar wilayah melainkan pemerintahan Allah yang penuh atas hidup manusia. Ketika seseorang berkata bahwa “Kerajaan Allah adalah prioritas: itu artinya mengutamakan Tuhan dan kebenaran-Nya. Mencari Kerajaan Allah berarti mengizinkan Tuhan untuk memerintah atas hidup kita, menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya, dan berusaha hidup sebagai anak-anak Allah.

Lalu, Mengapa kita harus memprioritaskan Tuhan dan kerajaan-Nya? Karena prinsip pertama hidup manusia akan menentukan prinsip berikutnya dan cara dia hidup: jika Allah yang utama, maka kekhawatiran tidak lagi menguasai hati, jika Allah pertama; maka keputusan kita akan diarahkan oleh hikmat-Nya; jika Allah pertama maka berkat yang datang akan menjadi alat kemuliaannya. Seperti pondasi rumah: jika pondasi miring, seluruh bangunan akan miring. Jika Allah dan kerajaan-Nya bukan prioritas utama hidup kita, maka seluruh hidup kita akan miring; mudah goyah saat badai datang.

Apakah pekerjaan kita lebih utama daripada persekutuan rohani? Apakah kebutuhan kita lebih penting daripada pertumbuhan iman? Apakah hubungan sosial kita lebih penting daripada doa pagi? Tuhan tidak pernah meminta kita mengabaikan tanggung jawab, tetapi Ia minta: “Letakkan Aku di tempat pertama, maka sisanya akan Ku kelola”.

Pada akhirnya, hidup kita ditentukan oleh apa yang kita jadikan sebagai prioritas utama. Apa yang kita tempatkan di posisi pertama dan menjadi prioritas utama akan mempengaruhi cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan. Karena itu, Yesus mengajarkan kepada kita, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Memprioritaskan Kerajaan Allah bukan berarti kita mengabaikan pekerjaan, keluarga, kesehatan, pendidikan, maupun kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, kita tetap menjalankan semua tanggung jawab tersebut, tetapi dengan menempatkan Tuhan sebagai pusat dan yang terutama. Ketika Tuhan menjadi prioritas, kita belajar menyerahkan kekhawatiran, rencana, kebutuhan, dan masa depan kita ke dalam tangan-Nya.

Jangan sampai kesibukan membuat kita kehilangan waktu untuk Tuhan, jangan sampai kebutuhan membuat kita melupakan iman, dan jangan sampai mengejar keberhasilan membuat kita menjauh dari kehendak-Nya. Sebab ketika Tuhan menjadi prioritas utama, hidup kita memiliki arah yang benar dan dasar yang kuat.

Jangan kita mencari berkat sampai kehilangan Tuhan.
Jangan kita mencari dunia sampai kehilangan jiwa.
Carilah dahulu Tuhan, dan biarlah seluruh hidup kita berada dalam pemerintahan-Nya.

Baca selengkapnya → Bagikan:
31 Aug 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
ABERAHAMO
"Ama Zamati ba Sama’eleö si föföna"

Turia Gaberahamo si tehöngö ba si lö irai taya ba dödö niha irugi ma’ökhö ya’ia hikayania me ibe’e sumange Lowalangi nononia Iza’aki. Ba da’ö ifaduhu’ö Yehowa Lowalangi wa “Awena sa U’ila, wa no sangata’ufi Lowalangi ndra’ugö [Aberahamo], me lö alimagö khöu nonou andrö, si ha sambua, ölulu khö-Gu” (1 Moze 22:12).

Si ndruhunia, na tahaogö ta’osisi’ö moroi ba wa mobörö, famati Gaberahamo andrö b no ibörögö me ikaoni ia Lowalangi moroi ba Guri – Galedaia (Heberai’o 11:8). Awu’a ia moroi ba da’ö isaŵa Harana. I’otarai Harana möi ia ba Gana’ana. Famatinia ba si tedou manö, he na itaria awuwu dania ba lala döröŵa wamatinia föna Zo’aya. Ifaduhu’ö sanura sura nifa’ohe’ö ba niha Heberai’o wa Aberahamo andrö irugi wa’amatenia ba mamati ia khö Lowalangi samabu’u khönia banua wa’ohahau dödö (11:13).

Ba hadia ha ama zamati Gaberahamo? Hadia no irai tarongo wa ya’ia andrö göi ba no samösa moroi ba gotalua zama’ele’ö? Si ndruhunia, ato ba gotaluada zi lö irai mamondrongo ma mombaso wa Aberahamo andrö ba no sama’ele’ö khö Lowalangi. Heza ifaduhu’ö da’ö Lowalangi? Ba huhuo Yehowa khö razo Abimelekhi, ifa’ema khönia Lowalangi wa Aberahamo andrö ba no sama’ele’ö. Imane Lowalangi “… noa sa sama’ele’ö ia [Aberahamo], ba akha mangandrö ia salahiu, ena’ö auri ndra’ugö …” (1 Moze 20:7).

Bosi zama’ele’ö (Heberai’o navi: niha si fahuhuo ba döi Lowalangi) nitandrösaigö khö Gaberahamo, faehu ia moroi ba zama’ele’ö tanö bö’ö si mane Yesaya, Yeremia, ma Danieli. Ya’ia tobali sama’ele’ö ba zi 3 (tölu) faosatö lala halöŵö:

Si föföna, Itema’ö daroma li Lowalangi. Fahuhuo khönia Lowalangi moroi ba zorugo (1 Moze 12:1-3). Ba gangilata, fahuhuo Yehowa khö Gaberahamo si mane nisura ba 1 Moze 15:1. Aefa da’ö, ba iforoma’ö göi Ia Lowalangi khönia (1 Moze 17:1). Irongo li Lowalangi ba itema’ö göi gamabu’ula li-Nia.

Si dua, Fahuhuo ia khö Lowalangi ba wangandrö. Ba 1 Moze 18:22-33, mangandrö Gaberahamo salahi mbanua Zodoma faoma Gomora. Si manö göi ba 1 Moze 20:7, Lowalangi zanguma’ö wa tola mangandrö Gaberahamo salahi Gabimelekhi. Ya’ia zi so ba gotalua niha khö Lowalangi.

Si tölu, Ifaduhu’ö Lowalangi ba niha. Aberahamo andre tekaoni ia tenga ha ba wanema ondröita Lowalangi. Tekaoni ia ena’ö ifaduhu’ö Lowalangi ba wa’aurinia. Ifazökhi naha wame’e sumange khö Zo’aya nahia ni’ila hörö niha si fasui wa ya’ia andrö samosumange Lowalangi.

Börö zi manö, sama’ele’ö tenga ha sama’ele’ö sanura sura (Yesaya irugi Maleakhi). Ato na sa zama’ele’ö si fahuhuo ba döi Lowalangi si lö manura sura, si mane Elia, Elisa, ba tanö bö’önia. Hiza, hikaya Gaberahamo andre, ifa’ema khöda wa tenga ha famati zi so khönia. Ifaduhu’ö ba mbuabuania wa ya’ia andrö enoni Lowalangi, nikaoni Zo’aya ba wamobörö amabu’ula li Lowalangi sirugi dania niha fefu, irugi ma’ökhö.

Ya tobali ita ndrela howuhowu Lowalangi!

Baca selengkapnya → Bagikan:
19 Aug 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
EHEHA NI’AMONI’Ö BA FAHUHUOSA
"Halöŵö Zinenge 1:8; Yohane 14:26; 16:13-14; Roma 12:7; 1 Fetero 4:11; Efeso 4:11"

Fefu niha samati ba khö Yesu Keriso, ba no latema mbuala sebua sibai ya’ia da’ö Geheha Ni’amoni’ö. Dozi niha si lö manema Ya’ia, ba tenga ono Lowalangi (Roma 8:14, 16). Börö Geheha Ni’amoni’ö andrö, te’asogö khöda wa’abölö (dunamis) ba wamaduhu’ö Yesu Keriso ba guli danö. Niha sanema Eheha Ni’amoni’ö ba ha sambalö ifaduhu’ö Yesu ba gera’era, ba wehede ba ba mbuabuania bongi ma’ökhö (Halöŵö 1:8).

Baero wa’abölö (dunamis) andrö, ba ibe’e khöda göi Eheha Ni’amoni’ö mbuala tanö bö’ö (karunia), dozi ita zamösana. Molo’ö Roma 12:6-8; Efeso 4; 2 Korindro 12:7-11, oya sibai mbuala Geheha Ni’amoni’ö ba niha samati. No faehufaehu mbuala-Nia andrö. Ba ibe’e ba niha da’ö börö me moguna ba gorahua zamati.

Ba gotalua mbuala Geheha andrö, ba so nifotöi buala ba wamahaö (Rm. 12:7; 1 Fet. 4:11) ba tobali göi samahaö (Ef. 4:11). Halöŵö ba wamahaö andre, ba tobali noro dödö ndra kubalo ma ira satua nituyu Lowalangi nifataro ba gotalua mbanua-Nia. Ya’ira zi tobali fandrita, satua niha Keriso, ba tanö bö’önia.

Ba wamaha’öra banua Zo’aya, ba tebai la’ositengagö Geheha Ni’amoni’ö. Tobali ira enoni börö Geheha Ni’amoni’ö, sanuyu ya’ira tobali samahaö. Börö da’ö, famaha’öra göi ba ha sambalö molo’ö famahaö Geheha Ni’amoni’ö.

Si ndruhunia, Eheha Ni’amoni’ö andrö, ba no “guru sebua” ndra enoni Lowalangi. Ifa’ema Yesu wa Eheha Ni’amoni’ö si so khöda zamahaö ba samasugi khöda hadia manö zi no iŵa’ö Yesu (Yoh 14:26). Aefa da’ö, Eheha Ni’amoni’ö göi zanuturu lala si ndruhu, ifa’ema li Yesu khöda ba ifolakhömi Yesu Keriso.

Ba wamahaö Geheha ya’ita, ba mufodanedane göi ba wa’owölö’ölöda ba wame’e tödö ena’ö tefahaö. Lö manö ifahaö ita Eheha Ni’amoni’ö na lö khöda fombaso Sura Ni’amoni’ö. Lö I’ila ifasugi ba dödöda zi no irai iŵa’ö Yesu Eheha, na lö irai tabaso mendrua manö na lö tatanö ba dödöda daroma li niŵa’ö Yesu. Eluahania, halöŵö Geheha Ni’amoni’ö andrö ba wamahaö ya’ita, ba lö itayaigö gera’erada. Ifasugi zi no tabaso, ifahaö ba wangalui eluaha ba ifofa’abölö ba wamalua. Lö sa’ae fama’ele’ö ni’amualagö-Nia moroi yaŵa, börö me fefu wamahaö si sökhi, ba no mufa’anö ba Zura Ni’amoni’ö. Börö zi manö, na ta’otöi zamati ma Niha Keriso, ba fandröndröu ita ba wombaso Sura Ni’amoni’ö, ba sökhi ua ta’angerönusi ba tafareso, hadia si ndruhu niha samati ita si so Eheha Ni’amoni’ö?

Ba wama’ema taroma li (huhuo sebua), ba moguna sibai wombaso, wangalui eluaha, fangandrö fa’abölö ba fa’atuatua soroi Geheha, ba famalua ya’ia, mendrua manö ba wama’ema. Andrö moguna sibai ginötö ba wombaso taroma li, mufa’anö ba dödö (persiapan), ena’ö na latuyu ita wama’ema taroma li (tiba-tiba), ba ha samasugi sa’ae Geheha Ni’amoni’ö ba dödöda hadia zinangea tafa’ema ba mbanua Zo’aya. Faudu ba da’ö, imane Faulo khöda, “Ombakha’ö daroma li, böi bulö’ögö, he baŵa, ba he tenga baŵa” (2 Timoteo 4:2).

Baca selengkapnya → Bagikan:
14 Aug 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
EHEHA NAMAMI ANDRÕ ZIHEDE
" -- Matai'o 10:19-20; Mareko 13:11; Luka 12:11-13"

Asese tarongo zanõtõnõtõi taroma li andre, "Eheha Namami zihede" na ero'ero lafa'ema daroma li Lowalangi. Si to'õlõ sangumanguma'õ da'a ya'ia ndra enoni nituyu ba dalu lala ba wangai huhuo (khotbah tiba-tiba).

Molo'õ ya'ira, na lahalõ huhuo sebua, Eheha Ni'amoni'õ sa'ae zihede bõrõ me no iwaõ Yesu ba Matai'o 10:19-20; Mareko 13:11; Luka 22:11-12.

Si ndruhunia, niwaõ Yesu andrõ, so'amakhaita ba nitõrõ ndra nifahaõ-Nia dania na no manahae Ia ba zorugo. Ira nifahaõ, ba la'ohe dania ba rafe sebua, lasekhegõ ira ba wanuriagõra turia Yesu, si mane nifalua khõ ndra Simoni Fetero Yohane nisura ba Halõwõ Zinenge 4.

Aombõ dõdõ ndra nifahaõ, bõrõ me lõ atuatua ira fahuhuo, mendrua manõ ba wamu'a ba hulura hadia nibõbõgõ khõra. Lõ onekhe ira wanema li na lasekhegõ ira ba rafe sebua.

Ba daõ i'aro'õ dõdõra Yesu, ena'õ bõi aombõ dõdõra me faofao khõra Geheha Ni'amoni'õ dania ba wanema fefu fanekhegõ khõra. Si mane salua ba khõ ndra Fetero Yohane, itema li andrõ fefu Fetero bõrõ Geheha (Hal. 4:8 - si no fahõna Eheha Ni'amoni'õ).

Bõrõ zi manõ, lõ tobali fangabe'e dõdõda daroma li andre, na tafa'ema huhuo sebua. Ba ginõtõ wama'ema huhuo sebua, moguna wombaso, wangalui eluaha, wamalua, ba fo'angandrõi awena dania tafa'ema ba zato.

Bõi mamalõmalõ ita ba wama'anõ tõdõda ba daroma li, awõ geluahania. Ya atuatua ita ba wombaso awõ wangalui eluaha. Ya itolo ita Lowalangi.

Baca selengkapnya → Bagikan:
11 Aug 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
HA SAMBUA BA KHÖ KERISO
"Galatia 3:26-29"

Amadöniŵa salua ba gotalua zamati ba Galatia ya’ia da’ö fefu niha baero si tobali niha Keriso, lafarou ira niha Yehuda si no tobali Niha Keriso ena’ö lafalua fefu goroisa si mane famoto (sunat). Ba so göi ba dödöra wamaehusi ya’ira ba niha baero me ya’ira nga’ötö Gaberahamo, sanema amabu’ula li Lowalangi.


Me irongo da’ö Faulo, ba mofönu ia. Andrö ifa’ema khöra zura, ibe’e wangaboto ba dödö si mane nisura ba 3:26-29. Ifaduhu’ö Faulo wa fefu niha ba guli danö andre tola tobali ono Lowalangi, sanema amabu’ula li-Nia (26). Ena’ö tobali ita ono Lowalangi, imane Faulo “moroi ba wamati andrö khö Keriso Yesu.” Faudu göi da’ö ba nisura Yohane “khöra itehe, tobali ono Lowalangi ira, khö zamati ba döi-Nia andrö” (1:12). Fa’atobali ita ono Lowalangi tenga moroi ba nga’ötö ma zui molo’ö amakhoita. Ha sambua lala wa tobali ita ono khö Zo’aya, ya’ia da’ö famati khö Yesu Keriso.


Yesu andrö Ono Lowalangi si ha samösa. Dozi samati ba döi-Nia, ba tobali ono khö Nama göi ba zorugo. Famatida khö-Nia ya’ia da’ö faduhu dödöda wa Ya’ia andrö Ono Lowalangi nifatenge ba guli danö, si tobali Sangorifi ya’ita, same’e fa’auri si lö aetu khöda.


Itohugö göi Faulo wa famayagö idanö nitemada ba döi Keriso, ba no tobali tandra wa no ta’onukha Keriso ba wa’aurida. Famayagö idanö si ndruhunia, tandra wa no tana khö Keriso ita. Famayagö idanö lö tobali ndrela wangorifi ya’ita. Famayagö idanö zamaduhu’ö wa ya’ita no tobali sanema amabu’ula li Lowalangi ba khö Keriso Yesu.

Börö me famayagö idanö andre mufalua ia ba niha fefu (Yehuda-Heleni; sawuyu; ira matua ba ira alawe), tobali göi tandra wa ha sambua ita khö Zo’aya. Lö sa’ae amaehutada khö Lowalangi. Ya’ita ma’afefu si no mamati ba sanema famayagö idanö, ha sambalö wa sanema ondröita Lowalangi ita, ya’ia wa’auri si lö aetu. Lö ifaigi mbawa niha Yehowa, ba lö itöngöni mbosida. Ibe’e mbuala-Nia khöda, börö Yesu Keriso.


Si ndruhunia, börö wamati andrö wa tola tana khö Keriso ita. Imane Faulo, na no tana khö Keriso ita, ba no ma’uwu Gaberahamo ita. Na molo’ö gangosisila nga’ötö, ya’ita andre lö amakhaitada khö Gaberahamo. Ha ba döi Yesu Keriso zamakhai ya’ita khö Gaberahamo awö gamabu’ula li Lowalangi khönia. Amabu’ula li andrö ba no tefa’ele’ö ba khö Keriso, ya’ia wa’auri si lö aetu. Samuza tö, amabu’ula li andre mube’e ba niha samati khö Yesu. Börö zi manö, hadia no mamati ita khö-Nia?


Baca selengkapnya → Bagikan:
06 Aug 2026 Admin
Hatiku Tenang karena Tuhan
"Mazmur 62:1-5"

Pemazmur sangat jujur kepada Tuhan mengenai persoalan hidup yang dihadapinya. Dia tertekan dari kejaran dan kejahatan musuh-musuhnya. Mereka mau menjatuhkan dan meremukkannya. Secara fisik, mungkin saja dia bisa melawan tetapi dia memilih jalan yang terbaik.

Di sini Pemazmur menyaksikan kepada kita jalan yang dia tempuh. Jalan seperti apakah itu? Di ayat 1 disebutkan bahwa HANYA kepada Allah saja hatinya tenang. Di sekelilingnya terdapat musuh yang mau menerkam, tetapi hatinya tetap tenang karena ada Allah di sisinya. Ketenangannya bukan karena pasif, tetapi karena dia sudah menyerahkan seluruh persoalan itu di tangan Tuhan.

Pemazmur di sini menyatakan kepada kita bahwa persoalan hidup seperti ekonomi, kehidupan social, kesehatan dan pekerjaan sebenarnya tidak merongrong kita. Alasan yang dikemukakannya sangatlah jauh dari yang kita harapkan. Bagi Pemazmur, ketenangannya dalam menghadapi semua persoalan di atas hanyalah Tuhan. Dia percaya adanya persoalan ekonomi, kesehatan dan lain sebagainya, tetapi dia juga percaya bahwa ada Tuhan yang menyertainya menghadapi semua masalah tersebut. Dia tidak sendirian, sehingga dia tidak khawatir. Oleh karena itu, Mazmur ini mendorong kita untuk menyerahkan seluruh kehidupan kita di tangan Tuhan dan senantiasa berjalan bersama Tuhan. – Soli Deo Gloria.


Baca selengkapnya → Bagikan:
06 Jun 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
TUHAN TIDAK PERLU PERSEMBAHANMU
"Mazmur 50:14-15"
Paradigma yang telah familiar di kalangan orang beriman ialah persembahan yang mereka berikan di gereja melalui kantong persembahan atau yang diantar langsung ke altar merupakan tindakan yang memiutangi Tuhan. Konsepnya ialah dengan memberi persembahan sedemikian besarnya, maka Tuhan berkewajiban memenuhi semua permintaan yang mereka ajukan via doa.
Konsep ini bukan hanya keliru memahami makna persembahan tetapi juga salah mengenal siapa Allah yang disembah. Mereka mengira persembahan menjadi "kunci" berkat Tuhan yang lebih melimpah.
Mazmur 50:14-15 mengingatkan kita bahwa persembahan yang dikehendaki Tuhan. Dia Pemilik segala sesuatu di langit dan di bumi. Dia tidak butuh kurban, uang dan sejenisnya. Tidak pernah Allah meminta jasa manusia untuk menolongNya (12).
Yang dikehendaki Tuhan dari kita ialah ucapan syukur dan pelaksanaan setiap doa kita di hadapanNya. Sekecil dan sebesar apapun persembahan kita, harus dibangun dengan pemahaman bahwa semuanya adalah milik Tuhan, termasuk kita. Makanya dalam Roma 12:1-2 Paulus mendorong orang percaya untuk memberikan dirinya (tubuh) sebagai persembahan yang hidup, Kudus dan berkenan kepada Allah. Esensinya, kita sendiri bukan milik sendiri. Kita milik Allah. Segala sesuatu yang kita kerjakan dan miliki hanyalah sebatas anugerah Tuhan yang seyogianya kita serahkan kepadaNya.
Termasuk setiap seruan yang kita panjatkan kepadaNya. Itu adalah komunikasi kita yang penuh kerendahan hati. Kita berdoa karena kita mengakui kalau kita bukanlah siapa-siapa. Kita membutuhkan Dia, Sang sumber hidup. Kita berseru karena kita tak berdaya, lemah dan tak bisa hidup tanpa Dia. Ketergantungan kita kepada Tuhan menjadi bukti bahwa kita senantiasa berpaut kepadaNya dengan menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab dan ucapan syukur.
Soli Deo Gloria 🙏

#mazmur #persembahan #ucapansyukur #doa #renungan
Baca selengkapnya → Bagikan:
02 Jun 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
ASAL USUL LONCENG GEREJA DI NIAS
"Sejarah Lonceng di Gereja Nias"

Masyarakat mengenal Koko sebagai media yang digunakan untuk memberitahukan sesuatu atau memanggil masyarakat setempat. Koko identik dengan lonceng. Umumnya digunakan di lingkungan masyarakat.


Pada tahun 1892, Dora Lett membawa lonceng yang terbuat dari bahan yang berbeda dari koko. Lett membawa lonceng tersebut di tempat pelayanan suaminya di Tugala Lahõmi.


Lonceng itu digunakan di gereja untuk memanggil orang supaya hadir di ibadah Minggu.


Masyarakat sangat terpukau melihat benda yang agak asing ini. Dengan alat itu, mereka mulai memahami signifikannya waktu dalam kehidupan mereka.


Gereja di Nias memang tidak semua memakai lonceng. Ada kalanya juga memakai koko. Di lingkungan tempat pelayanan saya, ada satu dua gereja yang masih memanggil orang dengan koko. Alasan utama gereja absen menggunakan lonceng ialah harganya yang cukup fantastik.


Menangani ketepatan waktu, gereja saat ini menentukan jam berapa dimulai suatu kegiatan. Seperti contohnya, di Agendre Gereja Angowuloa Fa'awosa kho Yesu - AFY dicantumkan bahwa kebaktian Minggu wajib dimulai pada pukul 10.00 pagi.


Sumber:

Tuhoni Telaumbanua, Salib dan Adu, 289.

Agendre Gereja AFY 

Baca selengkapnya → Bagikan:
15 May 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
YESUS TELAH NAIK, DIA NGAPAIN?
"Karya Kristus di Surga Pasca Kenaikan-Nya"

Yesus Kristus kembali ke surga setelah misi keselamatan sudah selesai. Dia disambut dengan kehormatan oleh Bapa, Dia ditempatkan di tempat yang layak bagi Pemenang, di sebelah kanan Bapa di surga.

Di surga, Yesus hadir dengan tubuh kebangkitanNya yang mulia. Dia berada di sana sebagai jaminan kepada kita bahwa sebagaimana Kristus hadir di surga dengan tubuh kebangkitanNya, kita pun dibawa ke tempat yang Dia berada dengan tubuh yang mulia nantinya.

Di sana pun Dia bukan duduk santai menanti waktu yang ditetapkan Bapa untuk menghakimi dunia. Berdasarkan tulisan yang ditunjukkan kepada orang-orang Ibrani, kita diberitahu bahwa Dia, yakni Kristus Yesus bersyafaat bagi kita umat pilihanNya yang masih berada di dunia ini. Inilah jaminan bagi kita ; Juruselamat kita mendoakan kita senantiasa supaya ada kekuatan dan kesetiaan melanjutkan kesaksian di tengah-tengah dunia.

Kenaikan Yesus bukan sebatas seremonial, tetapi meneguhkan hati kita akan kemenangan yang telah diraih oleh Kristus Yesus, Tuhan kita. Kemenangan itu telah menyelubungi kita. Kita adalah umat pemenang (Roma 8 ). Kita harus memproklamasikan kemenangan itu kepada dunia hingga kedatanganNya kali kedua. Itu yang menjadi tugas kita. Hati dan pikiran serta waktu dan tenaga kita arahkan untuk kemenangan itu dan memberitakannya selama hayat kita.

Soli Deo Gloria 🙏

Baca selengkapnya → Bagikan:
12 May 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
APAKAH KITA TERMASUK MARTUS KRISTUS?
"Kisah Para Rasul 1:8"

pada moment kenaikan, Yesus menyatakan suatu deklarasi yang menggembirakan pembaca, yakni para murid akan mendapatkan kuasa dan terlibat dalam karya keselamatan yang telah digenapi dan mulai direalisasikan oleh Allah. Yesus mengatakan "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi" (Kis. 1:8).

Pernyataan Kristus menekankan status para murid sebagai saksi-Nya di bumi ini. Yesus telah mengantisipasi keraguan dan ketidakmampuan para rasul, oleh karena itu, Dia meneguhkan hati mereka dengan menyatakan "kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu".

Di sini Yesus sebenarnya mengafirmasi ulang tugas Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa di dalam Nama-Nya, seperti yang ditulis dalam Injil Yohanes 14:26; 15:26; 16:14. Roh Kudus adalah saksi sorgawi yang diutus kepada orang percaya untuk mengajari dan mengingatkan mereka siapa Kristus Yesus. Kebenaran kesaksian tersebut sangat valid dan dinyatakan dalam Kitab Suci.

Status sebagai saksi (kata Yunani martus) merupakan sosok yang mengetahui dengan mengerti dan menyaksikan secara langsung apa peristiwa yang terjadi atau siapa yang akan disaksikan. Di sini dibutuhkan pengetahuan yang akurat, argumen yang jelas dan pembuktian yang faktual. Seorang saksi harus benar-benar mengenal sosok yang dia saksikan dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan kesaksian yang benar dan tepat. Selain itu, seorang saksi juga berani berkorban demi kebenaran (dari kata martus menjadi martir).

Hal ini menuntut adanya relasi yang intim dengan Kristus yang disaksikan. Saksi harus mengenal-Nya dan mengetahui semua karya dan kuasa-Nya yang menyelamatkan. Kemampuan untuk mengetahui itu berasal dari Roh Kudus yang mengilhami dan menuntun kita pada kebenaran. Hal ini hanya berlaku bagi para murid Kristus atau orang percaya.

Oleh karena itu, kita harus menyelaraskan siapa Kristus yang kita saksikan dengan kesaksian Roh Kudus di dalam Alkitab. Meskipun kita sangat beragam dan multistyle, kita tidak bisa mempresentasikan Krsitus menurut selera kita masing-masing. Kristus hanya satu, dan kesaksian tentang Dia pun hanya satu. Metode dan kearifan kita dalam menyaksikan Dia, tidak bisa mereduksi siapa Dia yang sesungguhnya. Mari kita mengenalNya dan mengasihi Dia dengan menjadi saksi yang rela berkorban demi Juruselamat kita.

Soli Deo Gloria! [Pdt. Mey Daman Lawolo]

Baca selengkapnya → Bagikan:
11 May 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
40 HARI BERSAMA PARA MURID, YESUS NGAPAIN?
"Kisah Para Rasul 1:3"

Pertanyaan tersebut sepintas terlihat sepele karena data-data Alkitab yang memuat peristiwa pasca kebangkitan-Nya sangatlah melimpah. Yesus setelah kebangkitan menampakkan diri kepada para murid yang sedang ketakutan, menikmati makanan yang disajikan – ikan goreng (Lukas 24:42-43) dan ikan bakar (Yohanes 21:12-14) – untuk membuktikan bahwa keberadaanNya di tengah-tengah mereka bukan hantu, dan memberikan kesempatan kepada Thomas untuk menyentuh tangan dan lambungnya yang telah terluka supaya dia percaya bahwa Yesus sudah bangkit.

Narasi Alkitab di atas berkaitan dengan bukti-bukti bahwa Yesus benar-benar bangkit. Kebenaran ini tidak bisa disangkal. Kubur kosong membuktikan Dia hidup. Tetapi, Lukas memberikan frasa yang sederhana namun sangat signifikan untuk menjelaskan apa yang dilakukan Yesus selama 40 hari bersama para murid. Yesus tidak sibuk menunjukkan diri kepada mereka: “Aku telah bangkit, loh.” Dia juga tidak asyik menikmati makanan mereka. Bahkan Dia tidak sedang menggunakan waktu itu untuk memanas-manaskan suasana hati para murid supaya semakin berlarut di dalam kesedihan akan kepergianNya. Dalam hal ini, kita sangat bersyukur atas catatan Lukas.

Demikian Lukas mencatat “Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.” Di sini Lukas tidak menyangkal mengenai bukti kebangkitan Yesus yang berulang kali menampakkan diri kepada para murid. Tetapi, Lukas mencatat isi atau konten ketika Yesus menampakkan diri atau hidup bersama dengan mereka. Mengenai hal ini Lukas mencatat “berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

Kata kerja legon (berbicara) berkala present aktif dan partisipel yang menunjukkan bahwa pembicaraan itu berlangsung di kala Yesus menampakkan diri kepada mereka. Secara umum, kata Yunani lego berarti berbicara. Tetapi, dalam Thayer's Greek Lexicon disebutkan penjelasan spesifik mengenai pengertian kata lego yang setara dengan “menegaskan”, “menyatakan”, ‘mengaku’, “mengatakan”, “mengajar”, menasihati, memberi saran; memerintahkan, mengarahkan, menjelaskan dengan kata-kata. Dari kata lego ini, kita bisa memahami bahwa Yesus selama 40 hari terus menerus mengajar atau menyatakan para murid tentang Kerajaan Allah. Yesus tidak mau kehilangan momen memberitakan Kerajaan Allah selama rentang waktu yang diberikan Bapa kepadaNya dalam menjalankan misi surgawi.

Topik Kerajaan Allah merupakan tema sentral kedatangan Yesus ke dunia. Dengan lantang Yohanes Pembaptis menyerukan "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat. 3:2). Berita yang sama diserukan oleh Yesus sejak pelayananNya hingga masa kebangkitanNya. Dia membekali para murid mengenai Kerajaan Allah untuk memiliki dan memberitakannya kepada dunia. Oleh karena itu, Lukas sebenarnya mempresentasikan kepada pembaca bahwa sentral pengajaran Yesus ialah Kerajaan Allah. Kita harus ditawan di dalam Kerajaan itu, menjadi warga dan ahli waris abadi sekaligus saksi akan semua karya Allah dalam meneguhkan KerajaanNya. Soli Deo Gloria. [Pdt. Mey Lawolo]


Baca selengkapnya → Bagikan:
10 May 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
DOA UNTUK UMAT TUHAN
"Kolose 1:9-14"

Paulus sangat terkenal sebagai rasul yang selalu mendoakan orang percaya (perhatikan surat-suratnya). Setiap doanya, selalu beralasan dan punya tujuan yang jelas. Penekanan yang harus diperhatikan di sini ialah doanya tidak terkait dengan kebutuhan jasmani, melainkan sifatnya lebih menjurus pada hal-hal spiritual dan pertumbuhan mereka di dalam Kristus.

Di bagian surat Kolose ini, kita bisa menganalisis doa Paulus untuk umat di kota Kolose. Harus kita ketahui bahwa jemaat di Kolose bukan didirikan atas jerih payahnya. Ada dugaan Epafras yang menjadi ujung tombak pembangunan jemaat di Kolose. Hal-hal itu tidak menjadi halangan bagi Paulus menyurati mereka.

Meskipun dia sedang di penjara, pikiran Paulus tidak terkurung, perasaannya masih hangat kepada umat. Dia masih mendoakan umat Tuhan yang dilanda tsunami filsafat dunia.

Di dalam doanya itu, Paulus mendoakan supaya pertumbuhan iman dan kasih jemaat senantiasa dipelihara bersamaan dengan pengertian dan pengetahuan akan kebenaran firman atau kehendak Tuhan.

Dia sebenarnya mendorong jemaat supaya tidak asal beriman. Paulus tidak mengenal azas "pokok e" karena baginya kehendak Tuhan harus dimengerti oleh setiap orang percaya.

Dia tidak sedang mendewakan pikiran, tetapi sedang menempatkan fungsi pikiran manusia pada kodrat yang sebenarnya. Dia menghimbau umat untuk memakai pikiran (rasio) untuk mengenal kebenaran firman dan menguji segala pengajaran yang merongrong kesejatian iman Kristen.

Doa Paulus ini sangat berimplikasi pada sikap  pelayan yang anti terhadap umat yang kritis. Umat jangan dikekang dengan belenggu kebodohan. Umat harus diajari, didorong untuk belajar dan mengerti firman yang merupakan kehendak Allah yang dinyatakan kepada kita.

Paulus mempresentasikan kepada pembaca bahwa dukungan kita untuk mendidik umat bukan hanya melalui pengajaran seperti kelas katekisasi, khotbah atau seminar. Tetapi juga ada langkah lain ialah mendoakan mereka senantiasa supaya hati dan pikiran umat terarah pada kebenaran.


#doa #paulus #rasul #kolose #kebenaran #pengertian #renungan

Baca selengkapnya → Bagikan:
01 May 2026 Admin
BÖI AREU NIHA SAMATI
"2 Tesalonika 3:1-12"

Samuza so wanofu Martin Luther ba niha Keriso, imane "Hadia nifaluada na tohare Yesu Keriso iada'a ma mahemolu ma ba ngaluo mifönada?". Oya wanema nifaehagö zamati khõnia, ba oi manõ lõ enahöi. Fanofu da'õ faudu ba nisura Waulo andre.


Ifa'ema zurania Faulo ba wamotokhi ba dõdõ zamati hadia nifaluara ba we'aso Zo'aya. I'atulö'ö wamahaö selungu si no mufa'ema khöra. Ifahaö ira ena'õ ba we'aso Zo'aya:


1. La'onorogö tödö lala halöwö Lowalangi (1-5). Ifarou ira ena'õ mangandrö salahi ndra enoni Lowalangi ba wanuriagö Turia Somuso Dõdõ.

2. Lafaehusi mbuabuara ba gotalua mbanua. No tobali dumaduma khöra Waulo ba ira enoni Lowalangi tanö bö'ö. Lafaduhu'õ wa samati ira.

3. Lalau mohalöwö ba wangalui soguna khöra. Ifa'ema Faulo wa tenga sinangea manga zi lõ mohalöwö! 


Ba daroma li andre ifa'ema khöda wa böi tarorogö wa'areu, he ba wotundreheni halöwö Lowalangi ba guli danö andre, he gõi wangalui soguna khöda irugi we'aso Zo'aya Yesu Keriso. Yaitolo ita Lowalangi!

Baca selengkapnya → Bagikan:
13 Apr 2026 Pdt. Mey Daman Lawolo
AHATÖ YEHOWA NA MU’AO NDRA’ODO
"Ngenungenu Yeremia 3:49-57"

AHATÖ YEHOWA NA MU’AO NDRA’ODO

Ngenungenu Yeremia 3:49-57

 

Ba duho daroma li andre edöna ifa’ema khöda wa so ginötö fandröndröu Lowalangi na mu’ao/mangandrö ita khö-Nia. Ifaduhu’ö da’ö Yeremia ba ayati si 44 “No öbalugö Ndra’ugö lawuo, fa tebai isösö fangandrö.” Faudu ba da’ö, imane göi Yesaya olalöŵami zamabali ya’ita khö Lowalangi (Yes. 59:1-2).Ba daroma li andre, ifa’ema khöda hewisa ena’ö ahatö Yehowa na mu’ao ita. Hadia nifaluada ena’ö ibe’e mbörö dalinga-Nia Yehowa ba wangandröda? Si föföna, Ta’ide’ide’ö ita föna-Nia. Ba ayati si 49-51 ifatunö khöda Yeremia wa no mo’ala’ala manö hörönia, mowöiwöi daŵa hörönia föna Zo’aya ba wamaigimaigi Yeruzalema si no tobali adudula. Möi ia khö Lowalangi si fao taŵa hörö. Si ndruhunia, ira matua abua sibai me’e (laki-laki tidak identik dengan air mata). Idanö hörö zamaduhu’ö wa si tebai ita ba wanaögö fa’afökhö si lö mu’ila mufaehagö ba wehede. Fange’esi nilau Yeremia ya’ia da’ö fange’esi horönia ba horö mbanuania föna Yehowa. Ifaduhu’ö si fao taŵa hörö wa börö horöra wa tola adudu Yeruzalema. Ba wangidengide’öda ya’ita föna Zo’aya, tatunö zi ndruhu irege ahat ita khö-Nia.


Si dua, Mu’ao ita khö Nama, ba döi Yesu ba wa’abölö Geheha Ni’amoni’ö. Yesu zamahaö ya’ita wa fangandröda tafa’ema khö Lowalangi Ama. Takaoni Lowalangi andrö, “He Abba, He Ama”. Ya’ia Nama fondrege zolomasi ba sahatö sibai khöda. Hiza, ba wangandrö nifaehagöda khö Nama, tafa’ema da’ö ba döi Yesu Keriso. Imane Yesu ba Yohane 16:23b “Si ndruhundruhu niŵa’ögu khöi, na so ni’andrömi ba khö Nama, ba Ibe’e khömi, ba döi-Gu” (Fahela 14:13-14; 15:7, 16).

Aefa da’ö, ba we’aoda khö Nama, tebai na moroi ba wa’abölöda. Si ndruhunia, lö ta’ila hewisa wangandrö. Andrö tebai isuno ia niha na i‘ila mangandrö. Ifaduhu’ö khöda Faulo, imane “Ba si manö göi Geheha, itolo ita, me no ambo wa’abölöda. Hadia ni’andröda ena’ö, hewisa zi sökhi, ba lö’ö sa ta’ila; ba Ya’ia, Eheha andrö, I’iagö salahida, ba wangaröngarö si lö alua baeha” (Rm. 8:26). Mu’ao ita khö Nama, me Ya’ia gumbu howuhowu khöda. Ta’angaröfi li Ia ha ba döi Yesu Keriso, si no tobali sama’ema ba gotaluada khö Nama (1Tim. 2:5). Ba Eheha Ni’amoni’ö zamahaö ba sangabölö’ö ya’ita ba wangandrö si sökhi.


Si tölu, Tatöngöni wa’abölö Lowalangi, tenga falemba höröda ba mbusibusi dödöda. Ba ngenungenunia andre, no manö itahigö ia tödönia Yeremia ba horö ba ba wa’adudu Yeruzalema. Hiza, ba gafuriatania ifuli ifakhölö ia wa ha sambalö itolo ira Lowalangi, me Lowalangi andrö fondrege zabölö, ba si lö faröi khöra. Tenga busibusi dödö nitöngönida ba wangandrö; tanga Lowalangi si lö faröi ba si lö ambö fa’abölö sondrorogö ya’ita.

Ba daroma li andre, ifahaö ita ena’ö lö mamalömalö ita wangandrö. Ba ba wangandrö göi tafaudugö ia ba zomasi Nama, si mane niŵa’ö Yohane “Ba da’ö wa lö aiwö, si so khöda ba khö-Nia: na so ni’andröda, hadia ia, si faudu ba zomasi Ia, ba Ifondrondrongo khöda” (1Yoh. 5:14). Soli Deo Gloria! [Pdt. Mey Daman Lawolo]

Baca selengkapnya → Bagikan:
12 Mar 2026 Pdt. Rachel Zebua
Terang di Tengah Kegelapan
""Yohanes 1:5""

Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Dalam kehidupan kita, seringkali kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan yang terasa gelap. Namun, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa terang Kristus selalu bersinar, tidak peduli seberapa gelap keadaan kita.

 

Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Dalam kehidupan kita, seringkali kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan yang terasa gelap. Namun, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa terang Kristus selalu bersinar, tidak peduli seberapa gelap keadaan kita.

Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Dalam kehidupan kita, seringkali kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan yang terasa gelap. Namun, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa terang Kristus selalu bersinar, tidak peduli seberapa gelap keadaan kita.

Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Dalam kehidupan kita, seringkali kita dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan yang terasa gelap. Namun, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa terang Kristus selalu bersinar, tidak peduli seberapa gelap keadaan kita.



Baca selengkapnya → Bagikan: