ASAL USUL LONCENG GEREJA DI NIAS
"Sejarah Lonceng di Gereja Nias"
Masyarakat mengenal Koko sebagai media yang digunakan untuk memberitahukan sesuatu atau memanggil masyarakat setempat. Koko identik dengan lonceng. Umumnya digunakan di lingkungan masyarakat.
Pada tahun 1892, Dora Lett membawa lonceng yang terbuat dari bahan yang berbeda dari koko. Lett membawa lonceng tersebut di tempat pelayanan suaminya di Tugala Lahõmi.
Lonceng itu digunakan di gereja untuk memanggil orang supaya hadir di ibadah Minggu.
Masyarakat sangat terpukau melihat benda yang agak asing ini. Dengan alat itu, mereka mulai memahami signifikannya waktu dalam kehidupan mereka.
Gereja di Nias memang tidak semua memakai lonceng. Ada kalanya juga memakai koko. Di lingkungan tempat pelayanan saya, ada satu dua gereja yang masih memanggil orang dengan koko. Alasan utama gereja absen menggunakan lonceng ialah harganya yang cukup fantastik.
Menangani ketepatan waktu, gereja saat ini menentukan jam berapa dimulai suatu kegiatan. Seperti contohnya, di Agendre Gereja Angowuloa Fa'awosa kho Yesu - AFY dicantumkan bahwa kebaktian Minggu wajib dimulai pada pukul 10.00 pagi.
Sumber:
Tuhoni Telaumbanua, Salib dan Adu, 289.
Agendre Gereja AFY