PRIORITASKAN KERAJAAN ALLAH
"“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” -- Matius 6:33"
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dijelaskan bahwa prioritas merupakan sesuatu yang didahulukan atau diutamakan daripada yang lain. Banyak hal yang menjadi prioritas hidup manusia, ada yang mengutamakan kesehatan, mengutamakan keluarga, ekonomi, kebutuhan, jabatan, hubungan sosial, pekerjaan dan lain sebagainya. Orang yang mengutamakan kesehatan akan berusaha hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi, orang yang mengutamakan keluarga akan berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan keluarganya. Prioritas akan membentuk pola pikir yang melahirkan tindakan. Jadi, apa yang kita letakkan di tempat pertama sebagai prioritas utama akan menentukan seperti apa kita hidup.
Namun, saat prioritas hidup kita bermasalah, tidak heran jika kekecewaan dan kekhawatiran pun timbul dalam hati, mungkin itu sebabnya kita sering khawatir: “khawatir akan kebutuhan sehari-hari, khawatir akan masa depan, kecewa ketika rencana gagal, cemas ketika kesehatan memburuk dan lain sebagainya. Tetapi, Tuhan tidak membiarkan kita hidup dalam kekhawatiran itu, Ia punya satu prinsip yang akan mengubah cara kita berpikir dan bertindak: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya”.
Kebanyakan orang berpikir bahwa kerajaan itu soal wilayah: ada raja, ada istana atau batas wilayah. Tapi dalam Alkitab, Kerajaan Allah bukan sekadar wilayah melainkan pemerintahan Allah yang penuh atas hidup manusia. Ketika seseorang berkata bahwa “Kerajaan Allah adalah prioritas: itu artinya mengutamakan Tuhan dan kebenaran-Nya. Mencari Kerajaan Allah berarti mengizinkan Tuhan untuk memerintah atas hidup kita, menyerahkan seluruh hidup kita kepada-Nya, dan berusaha hidup sebagai anak-anak Allah.
Lalu, Mengapa kita harus memprioritaskan Tuhan dan kerajaan-Nya? Karena prinsip pertama hidup manusia akan menentukan prinsip berikutnya dan cara dia hidup: jika Allah yang utama, maka kekhawatiran tidak lagi menguasai hati, jika Allah pertama; maka keputusan kita akan diarahkan oleh hikmat-Nya; jika Allah pertama maka berkat yang datang akan menjadi alat kemuliaannya. Seperti pondasi rumah: jika pondasi miring, seluruh bangunan akan miring. Jika Allah dan kerajaan-Nya bukan prioritas utama hidup kita, maka seluruh hidup kita akan miring; mudah goyah saat badai datang.
Apakah pekerjaan kita lebih utama daripada persekutuan rohani? Apakah kebutuhan kita lebih penting daripada pertumbuhan iman? Apakah hubungan sosial kita lebih penting daripada doa pagi? Tuhan tidak pernah meminta kita mengabaikan tanggung jawab, tetapi Ia minta: “Letakkan Aku di tempat pertama, maka sisanya akan Ku kelola”.
Pada akhirnya, hidup kita ditentukan oleh apa yang kita jadikan sebagai prioritas utama. Apa yang kita tempatkan di posisi pertama dan menjadi prioritas utama akan mempengaruhi cara kita berpikir, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan. Karena itu, Yesus mengajarkan kepada kita, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).
Memprioritaskan Kerajaan Allah bukan berarti kita mengabaikan pekerjaan, keluarga, kesehatan, pendidikan, maupun kebutuhan sehari-hari. Sebaliknya, kita tetap menjalankan semua tanggung jawab tersebut, tetapi dengan menempatkan Tuhan sebagai pusat dan yang terutama. Ketika Tuhan menjadi prioritas, kita belajar menyerahkan kekhawatiran, rencana, kebutuhan, dan masa depan kita ke dalam tangan-Nya.
Jangan sampai kesibukan membuat kita kehilangan waktu untuk Tuhan, jangan sampai kebutuhan membuat kita melupakan iman, dan jangan sampai mengejar keberhasilan membuat kita menjauh dari kehendak-Nya. Sebab ketika Tuhan menjadi prioritas utama, hidup kita memiliki arah yang benar dan dasar yang kuat.
Jangan kita mencari berkat sampai
kehilangan Tuhan.
Jangan kita mencari dunia sampai kehilangan jiwa.
Carilah dahulu Tuhan, dan biarlah seluruh hidup kita berada dalam
pemerintahan-Nya.