TSACHAQ: Guyonan yang Merendahkan
Artikel 22 June 2026 · Oleh Pdt. Mey Daman Lawolo

TSACHAQ: Guyonan yang Merendahkan

Bagikan:

"Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, SEDANG MAIN DENGAN ISHAK, anaknya sendiri" (Kejadian 21:9)

Terjemahan LAI terhadap kata Ibrani tsachaq menimbulkan keambiguan makna. Dalam TB, kata tersebut diartikan sebagai "bermain". Sura Ni'amoni'o (Alkitab dalam Bahasa Nias) mengartikannya sebagai "ma'iki." Mana yang benar dan apa implikasinya bagi kita?

Secara gramatikal, kata tsachaq merupakan verb piel. Dalam konteks Kejadian 21:9, tsachaq tidak bisa diartikan dengan tertawa secara positif. Dengan memerhatikan konteks dan grammar bahasanya, kata tsachaq di sini bermakna mengejek karena tawa si Ismael dilakukan secara intensif dan berulang-ulang (piel).

Dengan memahami makna dari konteks serta grammarnya, kita tidak heran dengan reaksi Sara yang meminta Abraham mengusir Hagar dan Ismael dari rumah mereka. Sikap Ismael yang buruk tersebut yang menjadi alasan kuat Sara membuang mereka.

Oleh karena sikap demikian begitu sensitif, kata tsachaq ini memiliki implikasi praktis bagi kita pembaca saat ini, yakni:

1. Budayakan guyonan yang membangun. 

Narator memperlihatkan kepada kita persoalan yang ada di dalam keluarga Abraham, yakni ahli waris. Menurut Allah, Ishak yang menjadi ahli waris Abraham. Tetapi, ketetapan ini sedikit terganggu dengan kehadiran Ismael yang semakin digunjingkan dengan ejekannya kepada Ishak.

Guyonannya bertujuan untuk mengarahkan Ishak pada sikap yang menyesali ketetapan Allah sebagai ahli waris. Dia bermaksud menghina Ishak, yang menurut pemandangannya tidak layak untuk hal ini. Motifnya hanya satu, dia mau menghendaki posisi yang agung itu sebagai ahli waris Abraham.

Guyonannya tidak murni. Memiliki kepentingan yang jauh dari esensinya. Tertawanya tidak menggembirakan hati Ishak, melainkan memperkeruh suasana.

Kita mesti bijaksana dalam hal ini. Apakah guyonan kita bersifat membangun atau merendahkan sesama?


2. Keretakan relasi dimulai dari hal-hal kecil.

Sikap Ismael terhadap Ishak ini memicu masalah besar dalam keluarga Abraham. Dengan berani Sara menyuruh Abraham mengusir Hagar dan Ismael. Mereka hanya sebatas babu di rumahnya, tetapi berlaku sewenang-wenang terhadap Ishak. Masa babu menghina tuan rumah atau majikannya?

Ismael tidak menyadari dampak dari ejekannya yang sangat serius. Keretakan relasi semakin memuncak oleh karena guyonan yang tidak bermanfaat ini.

Bila kita merefleksikan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi, hanya karena guyonan atau pernyataan sepele banyak orang yang bunuh-bunuhan, bertengkar dan mengalami kerusakan relasi. Fakta ini bukan hanya terjadi di dalam keluarga atau lingkungan masyarakat, gereja juga terjangkit di dalamnya. Oleh sebab itu, kewaspadaan terhadap pernyataan dan guyonan sangat memerlukan atensi dari kita supaya tidak sembarang memainkannya.

Dalam kitab Amsal ditulis demikian

"Usirlah si pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan akan berhentilah perbantahan dan cemooh" (22:10).

Paulus menasehati kita, demikian:

"Bila kamu berbicara, kamu harus selalu baik dan bijaksana. Dengan demikian, kamu tahu cara menjawab setiap orang" (Kol. 4:6 (VMD))

Soli Deo Gloria 🙏

Pdt. Mey Daman Lawolo