HILIBADALU (28/04/2026) – Suasana hangat menyelimuti Kantor Sinode AFY di Hilibadalu, Kecamatan Sogae'adu, Kabupaten Nias, saat Ephorus AFY menerima kunjungan persahabatan dari Pdt. Terifosa Ndruru, M.Th. (Pendeta ONKP), Selasa (28/4). Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi wadah diskusi teologis dan budaya yang mendalam.
Kunjungan ini merupakan momentum spesial untuk mempererat tali persaudaraan yang telah terjalin lama. Meski keduanya sempat kehilangan kontak dikarenakan penempatan tugas pelayanan yang berbeda di masa lalu, pertemuan kali ini membuktikan bahwa semangat oikumene dan persahabatan antar-pelayan Tuhan tetap terjaga melampaui batas geografis.
Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Terifosa Ndruru yang saat ini tengah menempuh studi Doktoral (S3) di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Jakarta, memaparkan progres penelitian disertasinya. Penelitian tersebut berjudul: "Dialog Hermeneutika antara Keluaran 21-23 dan Fondrako: Kajian Lintas Tekstual Hukum Kasuistik dan Hukum Adat Nias dalam Perjanjian Lama."
Guna memperkuat validitas data penelitiannya, Pdt. Terifosa diskusi dengan Pdt. Yanto Kurniatman Hura, M.Th. sebagai salah satu responden. Dalam diskusinya, Pdt. Yanto sedikit memberikan penjelasan mengenai kedudukan Fondrako dalam tatanan sosial masyarakat Nias.
Secara historis, Fondrako merupakan institusi hukum tertinggi di Nias. Ini adalah sebuah sistem penetapan norma yang disahkan melalui musyawarah besar tokoh adat dan dikukuhkan dengan sumpah suci. Fondrako mengatur segala aspek kehidupan, mulai dari etika bermasyarakat hingga keadilan hukum, yang menjadikannya pilar utama ketertiban sosial di Kepulauan Nias sejak masa leluhur.
Menanggapi paparan tersebut, Ephorus AFY menyampaikan apresiasi atas kajian ilmiah yang mengangkat nilai-nilai lokal. Beliau menekankan pentingnya gereja melakukan refleksi dan korelasi terhadap hukum-hukum dalam Fondrako.
"Sebagian hasil hukum yang telah diputuskan dalam Fondrako dapat kita korelasi kan di dalam pelayanan gereja di Nias, sejauh hal-hal tersebut selaras dengan kebenaran Alkitab. Kita tidak boleh meninggalkan kearifan lokal yang baik, namun justru harus memperkuatnya dengan nilai-nilai Kristiani," tegas Ephorus AFY.
Pertemuan ditutup dengan foto bersama, sebagai kenangan yang akan diingat di masa yang akan datang.